Orang yang kena musibah atau lagi bersedih atau mungkin depresi, mereka tidak butuh nasihat atau di ceramahi yg mereka butuhkan adalah di bantu, di mengerti, di cintai, di dengarkan dan di beri support atau di beri semangat dan di doakan dengan tulus. Mungkin orang bisa berkata yg sabar, Iklasin saja, saya turut berduka cita, dlln, tapi mereka tidak merasakan betapa sedihnya orang2 yang terkena musibah itu, “semua ini tidak bisa di pungkiri” kecuali mereka pernah mengalaminya. namun Orang kaya/orang punya banyak harta dengan orang pas2 an atau mungkin miskin jika kehilangan akan memiliki kesedihan yang berbeda, orang kaya kehilangan akan keliatan biasa2 saja, tapi orang pas-pasan sungguh sangat terasa kesedihan itu. Yaallah sabarkanlah mereka orang-orang yg terkena musibah, dan gantilah mereka kebahagiaan yg berlipat ganda. Amiin..

Yaallah sebenarnya aku mudah merasakan kasihan terhadap orang-orang yang terkena musibah/kesedihan karena sy sendiri pernah mengalaminya malah bukan hanya pernah tapi bisa di bilang sering. namun apalah daya ingin membantu dengan harta namun tidak mampu, yan saya bisa hanya membantu melalui do’a.

Saya pernah mengalami kesedihan/musibah hingga depresi dan saya hampir tidak mampu melewati kesedihan itu tapi saya selalu berusaha untuk melewatinya dgn berusaha sebaik mungkin, jika semua itu untuk menaikkan derajatku atau Engkau punya rencana lain yg terbaik untuk diri saya dan kluarga saya. Maka saya selalu berusaha untuk melewatinya dengan sebaik2 nya. Orang-orang yang meremehkan orang yg kena musibah karena mereka belum pernah di uji dengan musibah yg sama, atau boleh jadi mereka pernah di uji dengan musibah/hal yg sama namun mereka masih punya harta lebih, punya uang lebih dan lainnya yg serba lebih. Atau masih punya jalan menuju rhoma lainnya.

Saya amati memang di sosmed itu ada orang yg dengki, iri, jahil dan sebagai berikut dan ada juga yg mendukung, senang, mensupport dan lainnya. Jangankan di sosmed di dunia nyata pun klu mau di uji dgn alat canggih orang yg dengki dengan yg tidak. Lebih banyak yg dengki atau tidak senang kok, ketimbang dengan yg senangnya. Makanya tidak aneh dan jangan heran jika ada yg menasehati ada yg tulus dan ada yg tujuannya menyudutkan.

Namun buat pemberi nasihat alangkah baiknya memberi nasihat itu jangan melukai yg di beri nasihat. Kita sang pemberi nasihat harus berpikir cerdas, nasihat itu untuk memberi semangat bukan untuk membuat patah semangat. Bagaimana andai yg kita nasihati tersebut patah semangat tidal tau agama, apa gak malah bunuh diri sekalian? jika tidak besi memberi nasihat yang baik atau yg bisa menyemangatkan orang yg kena musibah lebih baik diam. cukup katakan semua yg kita punya titipan dan cobaan dari Allah maka akan kembali ke Allah. Semua orang siapapun tanpa kecuali, semua orang bisa menasehati orang yg lg kena musibah, termasuk sayapun pernah menasehati orang yg lagi sedih atau dapat musibah, tapi sy tidak yakin semua orang bisa menjalanin apa yg di nasehatkan atau di ucapkan ke orang lain, andaikata yg menasehati tersebut ada dalam seperti posisi yg di nasehati.

Makanya sy bilang dalam postingan ini di awal, orang sedih tidak butuh nasihat, karena mengakibatkan tambah pusing dan tambah beban, saya yakin pembaca setia Dwiwap.com memahaminya. suatu saat kalian semua akan merasakannya semua betapa sedihnya terkena musibah. Tapi mudah2 han anda semua di uji dengan kesenangan dan kebahagiaan yang terus menerus bukan dengan penderitaan, kemiskinan, kegundahan yg terus menerus Dlln. bersyukurlah anda yg di uji dgn kekayaan yg berlimpah, kebahagian terus menerus Dlln, dan bersabarlah dan selalu berusaha bersabarlah bagi yg di uji dengan penderitaan terus menerus.

Saya yakin suatu saat anda dan kita semua baik yang meremehkan musibah maupun yang tidak.. kita semua akan merasakan pahitnya yang namanya terkena musibah. Semua orang bisa menasehati sekalipun itu orang munafik, orang pendusta, orang islam ktp dan sejenisnya, ntah itu nasehatnya berdasarkan untuk nenyinggung,atau untuk memojokkan, untuk nenjatuhkan, untuk nenjudge dan untuk sejenisnya, tapi sy tidak yakin semua orang tersebut bisa di pegang omongannya semua, seperti apa yg di nasehatkan ke orang lain. (Hanya 100 banding satu yg bisa di pegang).

Orang pusing yg kena musibah menang tidak butuh nasihat yg tujuannya untuk menyudutkan atau sejenisnya. Karena hanya menambah beban dan pikiran. Mereka bukan tidak mau di nasehati tapi yg meraka butuhkan lebih condong untuk di mengerti, di pahami, di bantu, di beri support atau di beri semangat dan di do’akan dengan tulus. Lebih baik diam, tidak usah pura2 nasehati, jika hanya malah membuat sang korban malah nambah membebani, karena rata2 orang yg kena musibah atau sedih itu bisa memahami mana orang yg tulus memberi nasihat dgn yg dusta nasihatnya atau tau mana orang yg suka dgn yg tidak suka. Mereka orang yg sedih atau kena musibah mereka tau mana nasihat jahil dgn mana yg nasihat beneran. Dan mereka tau orang yg gak suka pura2 suka, dan Pura2 ngasih nasihat, tapi tujuannya hanyalah untuk melampiaskan egonya. Lagian orang sedih itu tidak butuh nasihat namun bukan tidak mau di nasihati, yg di butuhkan adalah di dengar dan di mengerti.

Memberi nasihat itu yg baik jangan sampai malah melukai yg di nasehati, seperti malah menyudutkan bahkan menyinggung. seolah2 yg di nasehati itu gak ngerti hukum agama. Intinya nasehat itu yg memotivasi bukan menyudutkan. Dan Intinya jika mau memberi nasihat itu yg baik jaga kata2 dan jgn menyinggung atau melukai yg di nasehati atau menambah beban sang korban atau menyudutkan atau seolah2 memojokkan. Contoh sekali lagi nasihat yg baik itu yg mensupport, menginfirasi dan memotivasi sang korban. Bukan menjudge, bukan menjatuhkan, bukan memojokkan dan bukan menyudutkan. Semoga bermanfaat dan bisa di ambil segi positipnya.

 Dwiwap

Comments

comments