Ada gak yang berani melawan Arus balik sendirian seperti saya. (Cukup Muslim tidak ikut golongan, tidak Taqlid, Tidak fanatik ulama ini-itu) namun bukan berarti mengingkari. Berprinsip sesuai dalam Qur’an seperti :

Percaya bahwa Tidak ada agama lain selain islam.
Agama Allah cuma satu yaitu Islam. (Tidak ada embel-embel).
Percaya bahwa Kristen, Khatolik, Hundhu, Budha, Konghucu dlln bukan Agama.
Percaya bahwa Yahudi dan Nasrani itu bukan Agama tapi sebutan Untuk Kaum nabi Musa dan Isa mereka muslim.

Saya punya Pertanyaan…yg menantang buat pembaca, jika ada yg mampu menjawab silahkan.
Pertanyaannya adalah:
Apakah ulama khususnya Ahli tafsir dan ahli fiqih bisa di jadikan tolak ukur? 

Sebelum menjawab mari renungkan terlebih dahulu berikut ini:

1. Taqlid adalah Keyakinan atau kepercayaan kepada suatu paham (pendapat) Ahli hukum yang sudah2 tanpa mau mengetahui-memahami dasar dan Alasannya.
Kesimpulannya adalah Taqlid bisa mematikan kreativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran, karena tidak mau tau dan mengetahui dasar dan alasannya yg di taqlid-i. Akhirnya menjadi taqlid buta/yang penting mengikuti.

2. Fanatik yang saya maksut adalah (Fanatik golongan, Mazab, Ulama, Ust, Kiay) dan sejenisnya. Yg tidak condong fanatik mereka tidak harus mengklaim ikut Mazab ini-itu, Ulama ini-itu dan ikut Manhaj salaf.

Sebenarnya jika mereka mau berfikir luas dikit tanpa kita fanatik ulama ini-ulama itu dsbt, Namanya islam ya sudah pasti mengikuti Allah, Rasullnya, Para sahabat Nabi, tabiin dan ulama2 setelahnya yg tidak menyelisihi Qur’an dan Sunnah.
Contoh fanatik yg condong ke golongan yaitu di dalam islam seperti fanatik Ormas islam golongan jaman era kita sekarang, kalau jaman dahulu sexte. Namun bedanya kalau Sexte itu condong menyelisihi Sa’riat islam namun kalau Ormas islam condong ke sa’riat islam, namun dua-duanya di Al-Qur’an di sebut golongan. Namun mereka yg condong taqlid dan fanatik mengatakan bahwa seluruh ormas islam itu bukan golongan tapi wadah.

Sejatinya pendiri golongan adalah pemecah belah umat islam yang tiada ketara, pada intinya semuanya bertujuan mempertajam dan memperuncing perbedaan. Dan mereka semua bukan berjuang untuk agama islam yg sebenernya, namun mereka condong berjuang untuk kelompok/golongan mereka, karena hasilnya rata2 menghasilkan tafsir yg berbeda2, pemahaman yg berbeda2.

Coba andaikan mereka berjuang untuk Agama Allah yaitu islam yg satu yg sesuai dengan sa’riat islam atau sesuai dengan Dua petunjuk yaitu Qur’an dan Sunnah atau sesuai yang telah di tetapkan Oleh Allah dan Rasullnya saya yakin tidak ada perbedaan dalam islam.
Namun sejatinya memang selama Masih di sebut muslim Nyembah Allah yang sama, bertujuan yang sama, berpedoman dengan kitab yg sama, bernabi yg sama saya pastikan tidak ada perbedaan dalam islam. Kenapa bisa banyak yg beda paham karena diantara mereka ada yg menyelisihi dua petunjuk tersebut.
 Dwiwap

Comments

comments