Ada sebuah Ayat dalam Qur’an yang Artinya sebagai berikut:

Katakanlah: Hai orang-orang kafir,
(1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
(2) Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah.
(3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
(4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah.
(5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. Al Kafirun: 1-6).

Ayat tersebut banyak saya jumpai di ucapkan Oleh ustad dan kiay dengan memotong di bagian ayat ke 6 yang bunyi seperti di bawah ini:

Lana a’maaluna walakum a’maalukum artinya (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu).

Kebanyakan Umat islam ntah itu dari kalangan Ulama, Ustad, kiay, Da’i dan apalagi Masyarakat biasa, mereka kebanyakan menyodorkan terjemahan ayat diatas kepada sesama muslim atau kepada muslim lainnya yang berlainan pendapat. Padahal ayat tersebut hanya di tujukan ke non muslim..

Ayat tersebut berisi seruan pada orang-orang musyrik secara terang-terangan bahwa kaum muslimin berlepas diri dari bentuk ibadah kepada selain Allah yang mereka lakukan secara lahir dan batin. Surat tersebut berisi seruan bahwa orang musyrik tidak menyembah Allah dengan ikhlas dalam beribadah, yaitu mereka tidak beribadah murni hanya untuk Allah. Ibadah yang dilakukan orang musyrik dengan disertai kesyirikan tidaklah disebut ibadah. Kemudian ayat yang sama diulang kembali dalam surat tersebut. Yang pertama menunjukkan perbuatan yang dimaksud belum terwujud dan pernyataan kedua menceritakan sifat yang telah ada (lazim).

Di akhir ayat Allah tutup dengan menyatakan,

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. Ayat ini semisal firman Allah Ta’ala

Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. (QS. Al Isra’: 84)

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Yunus: 41)

Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu. (QS. Al Qashshash: 55)

Sesama Muslim Seharusnya saling mengingatkan Tentang kebenaran yg Hak yg berdasarkan Qur’an dan hadist yg sahih.

Terutama mengingatkan kepada Ahli bid’ah, jangan putus asa mengingatkan kepada mereka, karena mereka sudah terlanjur taqlid buta, Dan taqlidnya melebihi kaum nasrani dan yahudi.

Banyak saya jumpai di Sosmed dan Di kotbah di hari jumat mereka menyodorkan ayat diatas untuk mengakhiri nasehatnya. kecuali jika yang di ingatkan dan di nasehati itu non muslim dan mereka tetep ngeyel. Katakan kepada kepada mereka / non muslim tersebut…Lana a’maaluna walakum a’maalukum artinya (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu).

Tapi yg membuat Sy tidak habis pikir dan Sangat memprihatinkan kebanyakan orang yang menyodorkan terjemahan ayat diatas Atau memotong Ayat tersebut ketika Kutbah di hari jumat Adalah ust/ kiay yg membela bidah atau yg mati- matian ngamalin amalan tradisi Padahal Amalannya sudah menyelisihi Sa’riat islam yang tiada sumber dan perintah dari 2 petunjuk Allah yaitu Qur’an dan hadits yg sahih.

Mohon maap ini pendapat saya berdasarkan Qur’an bukan berdasarkan katanya- katanya seperti kata ustad dan kiay yang anda taqlid-i. Jika tidak sependapat tidak apa-apa Tapi menurut saya para ulama Tafsir juga berpendapat seperti itu. Mungkin ust/ kiay/ masyarakat yg tidak sepakat atau sering nyodorin ayat tersebut kesesama muslim wawasan dan pengetahuannya belum nyampe kesitu.

 Dwiwap

Comments

comments

tags: