Pertanyaan :
Bagaimanakah ketentuan busana yang benar menurut syariat Islam ?

Zaman memang telah berubah dan menampakkan wajah barunya, namun bukan berarti hukum Allah subhanahu watta`ala juga harus ikut berubah. Hukum agama memang selalu menyesuaikan dengan kondisi dan mempertimbangkan mashlahat (kebaikan) bagi umat manusia. Namun, bukan berarti hukum akan selalu berubah seiring perubahan zaman. Berjilbab atau menutup aurat secara sempurna bukanlah sekedar budaya bangsa Arab, namun menutup tubuh adalah aturan agama yang berlaku bagi seluruh umat kapanpun dan dimanapun. Sesuai dengan firman Allah dalam alqur’an surat An-Nur ayat 31, yang artinya sebagai berikut : Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

Setidaknya ada 6 (enam) kriteria busana seorang muslim yang sesuai dengan ajaran syara’ sebagaimana dapat dipahami dari penjelasan Imam Ali Ash-Shabuni, yaitu :
1. Dapat menutupi seluruh aurat.
2. Dengan bahan yang tebal (tidak transparan), sekira bisa menutupi warna kulit.
3. Tidak terlalu indah dan menarik perhatian.
4. Tidak terlalu ketat sampai menampakkan lekukan tubuh.
5. Tidak diberi wewangian yang dapat menggelitik birahi lawan jenis.
6. Motif busana tidak menyerupai motif busana lawan jenis.

Secara bahasa aurat adalah aib, kekurangan, cela, atau sesuatu yang menjijikan. Sedangakn menurut istilah syara` atau istilah, aurat adalah anggota tubuh yang harus dan wajib ditutupi dan haram dilihat atau diperlihatkan.

Perincian ketentuan busana yang benar menurut syara` ialah yang mampu menutupi aurat, sedangakn ketentuan aurat laki-laki dan wanita adalah sebagai berikut :
Pada saat sholat, aurat laki-laki adalah anggota tubuh diantara pusar dan lutut, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Ketika dihadapan lawan jenis yang menjadi mahramnya, maka aurat laki-laki dan wanita adalah anggota tubuh antara pusar dan lutut.
Ketika berada di hadapan lawan jenis yang bukan mahramnya, maka aurat laki-laki dan wanita adalah seluruh anggota tubuh, kecuali pada waktu-waktu tertentu saat ada kebutuhan lainnya, seperti transaksi (mu’amalah), lamaran (khitbah), dan lain sebagainya, maka mengecualikan wajah dan telapak tangan.

Itulah sedikit pemaparan tentang bagaimana ketentuan atau aturan berbusana yang benar menurut syariat Islam. Sedikit catatan, hukum diperbolehkannya saling memandang antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa keadaan seperti lamaran, atau transaksi akan berubah menjadi haram jika dikhawatirkan terjadi fitnah. Terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat. Semoga kita semua diberikan jalan dan dibukakan pintu menuju surganya. Amin Ya Robbal Alamiin.

Comments

comments

tags: